Senin, 17 Maret 2014

Seorang Teman

Lihat dia terbangung tengah malam, jam 4, setelah alarm yang berbunyi dari setengah jam yang lalu, sengaja dia mengatur demikian, karena selama ini setiap mengatur alarm jam setengah lima (waktu subuh) dia selalu terbangun pada pukul enam. Niat yang bagus. Ah tapi mungkin dia lupa bahwa alarm itu telah mengganggu seluruh penghuni bangunan. Pagi itu ia bangun, melihat hp, menyelesaikan soal matematika dari aplikasi alarm, pada awal nya mempan, alarm dimatikan kalau soal terselesaikan, ngantuk jadi hilang, dan ga bakal tidur lagi. Tapi setelah beberapa waktu memakai aplikasi itu, ah dia menyelesaikan soal itu dengan setengah tidur. Jadilah dia tidur lagi. Dan bangun jam 7.

Mungkin dengan tetap shalat subuh walaupun sudah jam tujuh akan membuat rasa bersalahnya berkurang, atau karena memang dia tau kalau itu diperbolehkan, atau dia tidak sadar kalau dia hanya mencari pembenaran2 dari hadist yang dicarinya. Dia tetap shalat. Menyingkirkan pekerjaan yang berserakan di lantai. Dia memang suka melakukan pekerjaan dengan membuka berbagai buku, sehingga dia merasa sedang melakukan sesuatu yang luarbiasa, buku2 yang bertebaran, kertas penuh coretan, kalkulator, ah dia merasa pintar, merasa sibuk, merasa melakukan sesuatu.

Satu hal, dia tidak pernah bisa fokus melakukan sesuatu, ada-ada saja yang dibuka nya di internet, satu soal tugas diselingi dengan banyak pengetahuan dari internet, dia tidak sadar kalau pengetahuan2 itu hanya pelarian dari tugas yang membuat dia harus berpikir dan menungangkan pikiran nya, dengan menjelajah di internet dia juga berpikir, karena dia suka berpikir, tapi dia tidak suka menuangkan hasil pikiran nya.
Nah, ketahuan kau ! Dia tidak suka menuangkan hasil pikirannya, pikirannya hanya bersileweran, kadang bagus kadang tidak, tapi dia tidak mau menuangkannya. Ah kenapa kau ? Apa karena kau tidak mau di pertanyakan ? Atau kau begitu malas ? Atau kau tidak merasa itu penting ? ah dia sudah punya pikiran sendiri soalnya, siapa saja di tentangnya, siapa saja tidak disetujui nya, orang-orang hebat pun dia kritik, dari dalam pikirannya. Makanya dia lebih banyak diam, karena dia terlanjur muak dengan orang orang yang dia pikir ga bisa berpikir dengan benar, dia mudah tersinggung, dia pandangan orang, raut muka tidak senang, basa-basi yang dipaksakan, apresiasi tanpa sebab, membuat dia memilih untuk tidak menyampaikan pendapatnya pada orang lain. Dia memilih untuk memuaskan pikiran nya sendiri. Ah dia memiliki perasaan yang halus, dan dia tidak mau mengganggu nya, ah kasihan kau.

Dia berjalan sendiri, ya dia berbeda, dia menatap tajam kedepan, dia tidak mau terlihat kalau dia melayang, melamun, seperti orang yang tidak tentu arah. Hei kau tau kah kau betapa sombong nya kau seperti itu. Bahkan orang yang dikenal semua orang pun, pejabat kecil-kecilan, dia sapa dengan setengah senyum. Senyumnya memang terlihat selalu berat. Pada pertemuan pertama orang akan menyapanya, dia akan membalas dengan datar, pertemuan selanjut lanjutnya, orang akan berat menyapanya, merasa tidak dihargai. Dan akhirnya orang akan menghindarinya, pun hanya sekedar menyapa. Ah tidak sadarkan kau.\
Dia punya banyak perencanaan, ah begitu hebatnya dia. Tapi belum satupun yang membuat nya berhasil menyelesaikannya. Ah ada, dia berhasil melewati test, ah waktu itu dia memang sungguh-sungguh, sehingga dia mendapatkannya, nah sekarang dia merasa semua yang dilakukanya tidak akan berhasil, lupa dia kalau dia tidak memberikan usahanya dengan sepenuhnya, lupa kalau dia pernah berhasil karena dia memang sunggunh bekerja dan juga dia berdoa, berdoa. Ah kau memang suka lupa dan putus asa.

Lihat dia, seminggu ini dia hanya makan satu kali sehari. Ah dia dari dulu selalu makan enak, makan memang menjadi hal yang penting baginya. Makan makanan yang tidak enak membuat dia merasa layu, tidak bertenaga, sehingga dia memilih untuk makan enak, walau cuma sekali sehari, dia kacau merencanakan keuangan nya, bahkan sekarang sudah terlilit hutang. Ah aku tidak bisa mengendalikan uang. saatnya kau merasakan perbuatan kau. Ah dia juga tidak berani lagi sekedar melapor pada orang tua, mendengar orang tua yang kecewa, tertawa yang dipaksakan, telah membuat hatinya tidak enak, dan dia memilih memendamnya sendiri. Itu pilihannya.

Ah kalian liat dia, dia dekat dengan seorang gadis. Lebih tepatnya hanya dia yang merasa dekat. Gadis itu selalu membuat dia merasa dicintai. Ah dia tidak tahu kalo gadis itu melakukan hal yang sama kepada semua orang. Gadis itu dekat dengan semua orang. dan dia sudah merasa dekat ketika gadis itu bertanya berbagai hal, menghargai apa yang dia sampaikan, kagum pada dirinya, melancarkan kode sehingga dia merasa kalau gadis itu mencintainya. Ah dia tidak mengetahui bagaimana orang ditempatnya bergaul, itu hanya pemanis pergaulan, ah dia memang tidak mengerti.

Kemudian dia berlari, dia pergi jauh, ingin melarikan diri ke tempat semua orang tidak mengenalnya. Dia berhasil, dia memiliki kepribadian baru di tempat itu. Dia menjadi orang yang periang, dia begitu terlihat memaknai hidupnya. Ah betapa bahagianya dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar